Tuesday, September 3, 2019

Teruslah Diskusi Meski Hanya Pamer Gusi

diskusi mahasiswa: Lentera

Berbicara tentang membaca saat ini utamanya di negara kita indonesia sangatlah kurang digemari. Pasalnya banyak anak-anak yang saat ini justru tidak termotivasi di dalam hal membaca. bahkan banyak diantaranya lebih memilih bermain dari pada membaca. 

Hal ini pun diperparah dengan adanya konektifitas di dalam dunia digital. tidak dipungkiri lagi di sekitar kita banyak anak yang memiliki telepon pintar (android). entah dari mana? entah dari hologram makanan berhadiah ponsel atau hadiah undian detergen ibunya. tapi yang jelas dengan terjangkaunya harga ponsel pintar dipasaran saat ini, maka tak heran semua orang dapat memilikinya  baik dari kalangan masyarakat bawah maupun kelas elit atas. selain itu para pengguna telepon pintar pun dimanjakan dengan beberapa fitur-fitur yang ada di dalamnya. mulai dari bercakap dan bermain dapat dilakukan menggunakan barang yang satu ini. seolah olah seluruh jangkauan dunia bisa dijelajahnya melalui bantuan senam jari.  

Kalau mendengar kata Diskusi. Apa yang terletak dibenak anda? Adu argumen, adu gagasan? pemikiran? yaa itulah salahsatunya, tetapi bukan adu sih yang tepat. karena lebih tepatnya adalah bertukar pikir dalam pemahaman dan pengetahuan. 
Diskusi merupakan hal yang sangat penting, mengingat dalam diskusi kita bisa menambah beberapa pengetahuan kita terlebih didalam diskusi ada saling tukar pemikiran dan pemahaman yang didapat dari pemikiran para diskutor(orang yang berdiskusi).

Diskusi memiliki peranan penting untuk menambah pemahaman tentang mengenai hal baik itu ilmu sosial, ekonomi, kesehatan, agama, maupun ilmu-ilmu yang lainnya yang patut dipelajari.
Diskusi memiliki peranan penting dalam hal itu, karena dengan diskusi secara tidak langsung ada ilmu yang kita dapat, ya itulah hasil dari kita mendengarkan lalu menganalisis.

Diskusi akan terasa menarik apabila ada sumbangsih timbal balik. yaitu saling lempar pertanyaan dan saling jawab. Bahkan dari hal itu bisa melupakan waktu karena sangking antusiasnya dalam membahas persoalan yang menarik untuk dikaji.

Tetapi, dari hal itu semua. Tidak semua peserta diskusi memiliki rasa yang sama. Dalam artian antusias dalam berdiskusi saling tanya saling bersuara semua, Karena kita mungkin tahu bahwasanya Niatan dari masing-masing orang pasti berbeda. Ada yang hadir karena niat dari diri sendiri untuk menambah intelektualisasi diri, ada yang hadir untuk mengisi harinya yang suntuk, ada yang hadir untuk mencari keramaian, ada yang hadir karena ajakan teman, dan lainnya..

Meski begitu, usaha untuk ikut berpartisipasi seperti itulah yang perlu dihargai. meski benar kehadirannya memang  berbeda-beda sesuai dengan kepentingan masing-masing. tetapi atas kemauannya itulah yang mungkin secara tidak sadar ingatan bawah sadar akan menyimpan memomori atas pembelajaran yang ia dengarkan. karena mungkin hanya diam dan mendengarkan saat diskusi, justru malah ia suatu saat mengetahui.

Karena apa? itulah Ilmu. tiada sesuatu yang sia-sia diciptakan tuhan. meski kita tidak diberi kemampuan di dalam satu hal. tetapi percaya ada kemampuan lain yang diberi tuhan, bahwasannya itulah yang dinamakan keadilan dimana semua mahluk diberi kelebihan masing-masing.

Itulah Pengetahuan. jika tak bisa dipahami dengan penglihatan, bisa dengan pendengaran, bisa dengan perasaan. Carilah ilmu pengetahuan itu, dimanapun, dengan siapapun. meski hanya diam dan jadi pendengar, meski hanya tersenyum dan pamer gusi. karena sebaik-baiknya pencari ilmu ialah jadi Pendengar yang Baik. Dimana dengan hal itu lambat laun otak pasti akan merespon apa yang mata lihat, mulut katakan dan telinga dengarkan.

Berpolitik untuk Kebaikan


“Memahamkan Politik Membangun Kemanusian dengan Pendidikan, Adab dan Moral”


Membahas tentang politik tentu kita akan membahas juga tentang hubungan satu antar sesama dan satu antar kelompok lainnya. Politik menurut makna harfiah secara sempit adalah tentang suatu hal yang bertujuan untuk meraih kekuasaan. Padahal bukan itu saja esensi yang dapat di pahami dalam politik, yang mana sebenarnya ada makna yang lebih luas dari politik dan bukan hanya sebatas kekuasaan saja.
Sebutan Politik yang hanya memahamkan dalam hal kekuasaan itu sajalah yang akhirnya timbul pemahaman yang hanya dipahami dari satu sisi oleh masyarakat yang akhirnya timbul beberapa persepsi tentang Politik itu Kotor. Padahal kalau kita dapat menelisik lebih dalam tentang hal tersebut, sebenarnya yang membuat politik itu kotor bukanlah dari Politik itu sendiri, melainkan oknum dari orang yang tidak paham akan politik itulah yang akhirnya masuk ke politik lalu mengkotori marwah dari politik. Sehingga yang terjadi apa? Timbulah beberapa penyelewengan diantaranya adalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Dari hal itulah pula timbul beberapa sikap buruk diantara para pelaku politik itu sendiri yang seolah mempertontonkan panggung politik sebagai panggung rusuh tak enak di pandang. Dimana arena debat kusir terjadi, arena saling menjelek-jelekkan lawan politik, arena hanya merasa satu kelompok yang paling mampu untuk membenahi ketata kelolaan, sehingga saling sikut terjadi yang intinya apa? Yaitu, hanya untuk tujuan ingin meraih kekuasaan saja.
Namun, ada yang menarik dan lucu dari politik. Dibalik kegaduhan yang ada ternyata disuatu saat apabila ada kontestasi dalam hal politik, timbulah salah satu sistem yang di sebut Koaliasi. Dimana dari hal itu salah satu kelompok politik satu dengan yang lainnya terdapat perjanjian untuk saling bergabung menciptakan kerja sama untuk memperoleh suara. Sehingga siapa yang memperoleh suara terbanyak itulah yang nantinya akan menang dalam kontestasi.
Suara memang penting bagi para pelaku kontes memperebutkan kedudukan, dimana salah satu caranya adalah dengan berpolitik. Karena perebutan itulah tentunya akan mebutuhkan banyak sekali suara yang di butuhkan. Dimana tidak semua elemen masyarakat memiliki suara yang sama yang dalam hal lain pasti semua berbeda. Maka tidak mungkin satu kelompok politik dapat memperoleh suara menyeluruh yang mencakup semua. Yang disitu timbul beberapa gep-gep kelompok masyarakat yang biasa disebut agamis, nasionalis, sosialis, komunis bahkan kapitalis.
Sehingga untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan koalisi untuk meraih suara kelompok lain yang mana satu kelompok saja tidak bisa mendapatkannya. Dan jangan heran apabila di dalam kontestasi politik apabila ada kelompok yang dulunya saling adu saling sikut, suatu saat bisa saling rangkulan seolah lupa dengan hal kekanak-kanakan yang dulu pernah dilakukan. Muncul pula celotehan masyarakat Rak duloni biyene koyo opo/jawa.(tidak malu dulunya kaya apa). Sehingga dari hal itulah masyarakat semakin menambah nilai buruk terhadap politik dan menganggap politik ya isinya orang-orang munafik. Omongan dapat berubah tiap waktu tergantung kepentingan.
Lau bagaimana? tentang konsep Berpolitik Untuk kebaikan itu sendiri. Kalau berbicara tentang Politik, maka kita harus pula melihat dari dari aspek luasnya dimana sebenarnya politik bukan hanya sebatas membangun kekuasaan saja, tetapi aspek luas daripada itu yaitu untuk membangun Manusianya. Karena Manusia itulah yang menjalankan politik. Dimana politik itu tidak mungkin bisa jalan kalau tidak ada elemen tersebut.
Munculnya cikal bakal manusia (Adam dan Hawa) sampai ahirnya diturunkannya ke bumi. Adalah Tuhan hendak menjadikan Khalifah di muka bumi(Q.S Al-Baqarah : 30-33). Yang mana Khalifah ialah mahluk Tuhan yang nantinya akan mendapat kepercayaan menjalankan kehendak tuhan dan menerapkan ketetapan-ketetapannya dimuka bumi. Maka untuk menjalankan fungsi kekhalifahan tersebut, Tuhan memberinya Ilmu Pengetahuan yang mana nantinya Manusia akan diberi kemampuan untuk mengatur, menundukan, mengelola serta memanfaatkan benda-benda ciptaan Tuhan sesuai dengan maksud diciptakannya.
Maka Kemanusian itulah inti pokok dari Politik. Seperti yang dikatakan oleh bapak Pluralisme Indonesia Abdurrahman Wahid(Gus Dur). yang mana ia berkata Yang Terpenting dari Politik ialah Kemanusian. Berbicara tentang kemanusiaan tentu kita berbicara tentang aspek yang melekat di dalamnya yaitu Pembangunan. baik itu membangun jiwa soasialnya membangun pengetahuannya maupun membangun ekonominya.
Konsep Pendidikan yang baik akan berperan penting dalam hal ini. Dengan cara membangun Moral dan Spiritualnya. Memberi pengetahuan serta pengajaran ilmu adab yang baik dan saling menghormati antar sesama atau istilah jawanya adalah Nguwongke Wong (Memanusiakan Manusia) . Dimana juga diperintahnya Rasul terakhir (Muhammad SAW) adalah untuk memperbaiki Ahlak manusia. Karena mempelajari Ilmu tanpa Ahlak saja tidak cukup. Keduanya harus bersinambung saling berhubungan. Sehingga dari hal itu akan muncul Kebaikan yang mana apabila para Oknum Politik itu mampu menerapkannya maka yang tercipta adalah Politik itu Kebaikan bukan Politik itu Kotor.

Sunday, June 23, 2019

Diklatsar Lanjutan KSR PMI Unit Unwahas

Foto : Sesi pemberian sambutan oleh Wakil Komandan KSR Unwahas 

Semarang, ksrunwahas.or.id - Setelah melalui beberapa rangkaian acara kegiatan, Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Lanjutan. Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) resmi di tutup. Minggu Sore, 23 Juni 2019.

"Kegiatan ini dilaksanakan untuk melengkapi 120 jam Pendidikan Selama jadi relawan, jadi kita laksanakan Diklatsar lanjutan ini agar nanti anggota ksr dapat memiliki kemampuan yang baik ketika terjun ke lapangan," Ungkap Maulana Rifki.

Maulana Rifki yang juga merupakan Komandan Satuan Tugas atau sebutan lain dari Ketua Panitia tersebut juga mengungkapkan bahwa selain untuk memperoleh 120 jam masa latihan juga berharap bahwasannya para anggota nanti dapat memiliki soft skill yang baik serta terampil dan tidak canggung untuk mempraktekan untuk membantu masyarakat dalam tanggap bencana.

"Ya kami berharap setelah dilaksanakan kegiatan ini nanti teman-teman diharkapkan mau ngapliksikan ilmunya dan tidak kaguk saat terjun langsung ke bencana," imbuhnya.

Diklatsar Lanjutan sendiri diikuti kurang lebih 20 anggota KSR Unwahas. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari yakni 22-23 Juni tersebut dilaksaksanakan di Gedung A Ruang A2.06 Kampus 1 Unwahas. Dan menghadirkan 5 pemateri dari PMI Kota Semarang, melingkupi beberapa pemaparan materi antara lain prinsip dasar gerakan, lambang organisasi, safer acces, penilaian, pertolongan pertama, pendarahan, bantuan hidup dasar, manajemen bencana, dan assesment.

Sementara itu pada saat penutupan Ulfa Fifi Ulan Safitri yang termasuk Wakil Komandan KSR PMI Unit Unwahas mengungkapkan bahwa usai dilaksanakan kegiatan Diklatsar Lanjutan tersebut diharapkan para anggota dapat lebih giat lagi dalam belajar dan berlatih agar dapat menjadi anggota ksr yang berwawasan luas serta dapat berguna ilmunya.

"Tidak banyak yang saya sampaikan yaa harapan saya tetep solid dan jangan lupa terus asah kemampuan agar apa yang di dapat dari pendidikan selama ikut ksr dapat berguna untuk masyarakat luas," tandasnya.

(*

Tuesday, June 18, 2019

KSR PMI Unit Unwahas Ikuti Jaga Posko Lebaran

Foto : Anggota KSR PMI unit Unwahas sedang bertutur sapa dengan penumpang


Semarang - Dalam Mudik Lebaran kali ini, PMI Kota Semarang menginstruksikan kepada jajaran Korp Suka Rela (KSR) baik dari Universitas maupun Relawan PMI lain, untuk menjaga Pos-pos mudik seperti diantaranya adalah di Stasiun Poncol dan Stasiun Tawang. Hal tersebut pun tak ketinggalan pula dari KSR PMI Unit Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) turut andil dalam kerjasama dengan PMI Kota untuk ikut melakukan penjagaan di Posko Stasiun poncol dan Stasiun Tanwang. Senin 10 Juni 2019.

"Ya, kebetulan kami juga dapat tugas dari PMI Kota untuk melakukan penjagaan Posko Mudik di Stasiun Poncol dan juga ada yang di Stasiun Tawang," ugkap Bayu selaku dari Anggota Ksr Unwahas` yang bertugas.

Bayu yang juga merupakan bagian dari Divisi Oprasional dalam kepengurusan KSR unit Unwahas tersebut yang kebetulan juga berjaga di Posko Stasiun tawang mengungkapkan bahwa penjagaan posko tiap tim dibagi per Shift. Dimana terdapat 2 shift, shift pertama pukul 07.00-21.00 dan shift kedua pukul 21.00-07.00 WIB dan Unwahas sendiri memiliki jatah tiga kali jaga, yakni di tanggal 3 dan 10 Juni, dimana keduanya juga bertepat pada malam-pagi hari.

"Saya sendiri dapat tugas jaga di stasiun tawang, dari Ksr Unwahas sendiri kita kebetulan dapat tiga kali jaga, dan itu semuanya di malam sampai pagi hari," imbuhnya.

Sementara itu, ditempat lain Adika aziz yang juga  merupakan Anggota KSR Unwahas di kepengurusan Divisi Pendidikan dan Latihan (Diklat ) yang berjaga di Posko Stasiun Poncol Pada tanggal 3 Juni mengungkapkan Kesan dan Pesannya terkait dengan jaga posko mudik bahwa ia baru petama ikut jaga, dan ia sangat senang dapat membantu orang secara langsung dan bersoasial dengan publik serta berpesan kepada anggota KSR untuk tidak ragu ikut andil ketika disuruh bertugas juga.

"Kesan saya sangat menyenangkan karena bisa membantu orang yang sedang melakukan mudik lebaran, dan menantang karena selain membantu juga harus menampilkan kemampuan sebagai relawan secara langsung didepan publik. Selain itu, saya berpesan untuk anggota Ksr dari unit Ksr Unwahas atau lainnya jangan takut jika disuruh bertugas untuk menjaga posko mudik, karena selain kita membantu kita juga dapat belajar praktik secara langsung yang sudah kita pelajari selama menjadi relawan," tandasnya.

Sunday, May 26, 2019

Terkait Gejolak Pasca Pemilu dan Dampaknya Terhadap Pendidikan, PW IPNU Jateng Adakan Buka Bersama dan FGD


Foto : Sedang Berlangsungnya Sesi Pemaparan Materi oleh Wasekjen PWNU Jateng

Semarang, PWIPNU - Untuk menguatkan sinergitas antar pemuda yang berkecimpung dalam keorganisasian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan membahas seputar peristiwa yang terjadi pasca pemilu 2019 serta dampaknya terhadap dunia pendidikan, Pimpinan Wilayah (PW) IPNU adakan Buka Bersama dan Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Muria Semarang. 25/05/2019 sore hari.

"Focus Grup Diskusi ini kami laksanakan karena mengingat peristiwa yang masih hangat pasca pemilu 2019, dan juga untuk mengulas tentang dampak yang terjadi terhadap dunia pendidikan," Ungkap Ahmad Halim Solkan, selaku kepanitian acara

Focus Grup Diskusi yang mengusung tema Menerawang Wajah Pendidikan Indonesia Pasca Pemilu 2019 tersebut menghadirkan pemateri dari Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, H. M. Zen Adv, M.Si, Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, H. Tino Indra Wardono, Praktisi Pendidikan/Ketua Pergunu Jawa Tengah, H. M. Faojin, M.Ag., M.Pd, dan Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah, H. Iman Fadhilah, M.Si. Serta turut juga dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Cabang (PC) serta Pimpinan Komesariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan KH. Sholeh Darat (Universitas Wahid Hasyim Semarang).

Muh Zen, dalam paparannya mengungkapkan, bahwa pendidikan adalah sektor penting yang harus dikawal oleh semuanya, utamanya segenap pengurus PW IPNU Jateng, karena bagaimanapun input kader berasal dari sana, pihaknya juga perihatin atas maraknya forum organisasi di tingkat sekolah utamanya organisasi berkedok keagamaan namun dalam praktiknya malah menjadi sarana pengembangan nilai radikalisme dan mengkebiri nilai keagamaan dan pancasila. 

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa DPRD Jateng telah menetapkan Perda Pendidikan yang harapannya kedepan tidak ada kembali dikotomi antara Pendidikan Formal/Non Formal. 
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membuka wacana dan menelaah potensi perubahan haluan kebijakan pendidikan, utamanya jika melihat hasil pemilu 2019.

“Pemerintahan ditingkat manapun, harus punya komitmen politik yang tinggi atas keberhasilan dan pengembangan pendidikan. Jika mereka abai maka SDM Masyarakatnya akan rendah. Masyarakat bisa mengawal dengan memantau berapa persen sih alokasi dana APBD untuk pendidikan” Tegas Muh Zen yang juga Ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI).

Sementara itu, dunia pendidikan di indonesia juga tengah diwarnai oleh maraknya sebarah doktrinasi radikal yang marak pada generasi muda seperti yang di ceritakan H. Imam Fadhilah, M.Si bahwa ia juga memiliki anak didik yang ikut terkena doktrinan pemikiran radikal

"Terkait radikalisme dikalangan generasi muda, kami mengalami langsung, ada anak didik kami yang pamit orang tuanya di Jakarta untuk ke Semarang, suatu ketika orang tua telpon dan mempertanyakan anak yang bersangkutan, ternyata ia belum ke pondok, akhirnya dicari dan anaknya akhirnya balik, dari ceritanya ia bilang dari solo. Namun pengamatan kami pasca dari solo lagak tingkahnya berubah dan nampak seperti orang linglung ditanya tidak mau jawab dengan lugas dan bahkan sering membenturkan kepalanya sendiri ke tembok, kami mencurigai ia terkena brainwash. Dari situ, ternyata potensi indoktrinasi radikalisme tersebar dimanapun dan menyasar kalangan pelajar dan generasi muda,” Ujarnya, yang juga merupaka anggota Forum Koordinasi Pemberantasan Terorisme (FKPT) 

Ia juga menyoroti maraknya situs berita yang secara afiliasi memiliki ikatan dekat dengan organisasi pendukung radikalisme, serta perkembangan dari Organisasi Pelajar di Sekolah yang berkedok kegamaan perlu menjadi sorotan banyak pihak, utamanya pegiat NU yang terlibat aktif di dunia pendidikan terlebih di era sekarang yang mana akses informasi dan komunikasi tidak terbendung, untuk itu ia juga berharap IPNU sebagai kader Muda NU diharapkan dapat ikut serta memerangi hal tersebut.

“Kami berharap besar bahwa segenap kader dan pengurus IPNU Jateng untuk jadi garda terdepan dalam menjaga aqidah ahlus sunnah wal jamaah an nahdliyah, karena tidak kami pungkiri, bahwa generasi pelajar dan muda sangat rentan dipengaruhi dengan indoktrinasi radikalisme dan anti nasionalisme terhadap bangsanya,” Tandasnya.

(Amepres)

Wednesday, May 22, 2019

Posko Kesiapsiagaan KSR-PMI Unit Unwahas

Foto : Anggota KSR Unwahas Sedang Melakukan Tugas Jaga Posko



Dalam melatih jiwa kesiapsiagaan KSR PMI Unit Universitas Wahid Hasyim Semarang mengadakan program jaga Posko di ruang Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) Gedung D Lantai 3.
13 Mei 2019.

"Kegiatan ini kami laksanakan untuk memenuhi tuntunan dari PMI, dimana menginstruksikan tiap unit di Universitas harus aktif," Ungkap Krisna Aditama, selaku komandan KSR Unwahas

Krisna yang juga merupakan penanggung-jawab program dari jaga posko menambahkan bahwasannya dilakukannya kegiatan tersebut tidak lain adalah untuk mempercepat respon KSR PMI Unwahas dalam Kegawat daruratan serta kesiapsiagaan.

"Harapan dari hal ini kita lakukan tidak lain supaya teman-teman nanti bisa terbiasa tentang prinsip kesiapsiagaan dan apabila terdapat kegawat daruratan dapat merespon dengan cepat," imbuhnya.

Posko Kesiapsiagaan yang dilaksanakan mulai tanggal 13 Mei 2019 di Gedung PKM KSR Unwahas Lantai 3 tersebut, dimulai pukul 08.00-19.00 WIB. Dan dilaksanakan setiap hari Senin sampai Jum'at. Dimana jalur pelaporan sendiri merupakan jalur pelaporan tertulis yang nantinya akan dilaporkan kepada pihak PMI Kota Semarang dan Kemahasiswaan.

"Nanti dalam hal pelaporan kita buat pelaporan tertulis, yang akan kita laporkan kepada PMI Kota Semarang dan Kemahasiswaan," pungkas Krisna.

Sementara itu, dari pihak para anggota KSR Unit Unwahas sendiri mereka mengaku sangat antusias dalam melaksanakan progam tersebut, karena dari hal itu mereka merasa dapat menambah pengetahuan dan wawasannya tentang kesiapsiagaan.

"Ya, kami sangat senang dengan adanya progam ini, karena dengan ini kami bisa tambah tahu tentang apa itu kesiapsiagaan," tutur Rifky Adika, selaku anggota KSR Unwahas

(persksr)

Pelantikan PKPT IPNU-IPPNU KH. Sholeh Darat




Foto : Pemberian sambutan dari pengurus MWC NU Kecamatan Gajahmungkur


Setelah melalui beberapa polemik dan gunjangan akhirnya Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU KH. Sholeh Darat Resmi di Lantik. Minggu 19/05/2019. Malam

"Alhamdulillah setelah beberapa kali penundaan, ahirnya hari ini kita bisa laksanakan pelantikan," ungkap Egi Maulana selaku ketua panitia pelantikan

PKPT yang mayoritasnya diisi oleh para Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang (unwahas) tersebut, awalnya menggunakan nama Unwahas sebagai komisariat. Akan tetapi setelah ada beberapa hal yang menghambat baik pro-kontra berdirinya PKPT sehingga menggunakan  nama KH. Sholeh Darat, yang bekerjasama dengan Majelis Wilayah Cabang (MWC) Kecamatan Gajahmungkur.

"Perlu di ketahui bahwa PKPT di tingkat universitas ini sebenarnya sudah sah secara kelegalan hal ini pun telah di tetapkan di IPPNU yaitu pada Kongres ke 12 di palembang 2012. Sedangkan IPNU di Kongres ke 18 di Boyolali 2015," ujar Zein Fadlulloh selaku ketua ipnu saat sesi sambutan usai dilantik

Pelantikan yang dilaksanakan di Gedung MWC NU Gajahmungkur setelah shalat tarawih  tersebut juga dihadiri oleh pengasuh pondok pesantren luhur wahid hasyim KH. Syaifuddin, pengasuh pondok pesantren al thariqah KH. Imam Syafi'i . Pengurus Rais syuriah MWC NU Gajahmungkur, Pengurus Banser dan Berbagai PKPT Univ dan Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU.

Pengurus Rais Syuriah MWC Gajahmungkur Bp. Ngarbi, dalam sambutanya menyampaikan dan berharap PKPT IPNU-IPPNU KH. Sholeh Darat dapat konsisten dan amanah sesuai dengan tuporsinya.

Ia juga menyinggung tentang adanya permasalahan nama, semisal tidak bisa menggunakan nama PKPT IPNU IPPNU Unwahas maka beliau mengarahkan  dengan menggunakan nama PKPT Wahid Hasyim atau Gusdur yang mana masih erat kaitannya dengan nama kampus. Dan juga berharap dengan adanya pkpt ipnu ippnu didaerah Gajahmungkur ini nantinya akan mempercepat terbentuknya PAC IPNU IPPNU di daerah tersebut.

"Dengan apa yang disampaikan oleh pengurus MWC NU tersebut harapannya ialah para kader IPNU-IPPNU KH. Sholeh Darat dapat menjadi pemacu agar tumbuh bibit-bibit baik dalam Komisariat (sekolah) maupun di tingkat Ranting (kelurahan) khususnya di Kecamatan Gajahmungkur sendiri," tandasnya

(Amepres)